Sensei

Foto bersama para sensei Kendo Jatim ki-ka : Yokota sensei, Sudo sensei, Masukata sensei, Toida sensei
Foto bersama para sensei Kendo Jatim
ki-ka : Yokota sensei, Sudo sensei, Masukata sensei, Toida sensei

Sosok penting satu ini adalah sorotan pertama dalam sebuah dojo. Sensei atau guru dalam bahasa Indonesia nya, bisa dibilang juga sebagai orang tua kita dalam kendo. Sosok yang menjadi panutan dalam perkembangan kendo kita, dan juga yang bertanggung jawab akan semua gerakan yang kita tampilkan. Di Indonesia ini tak sedikit dojo Kendo yang masih tidak memiliki sensei, kebanyakan para senpai yang mengambil alih tugas ini. Seperti yang saya alami ketika saya pertama kali bergabung dengan kendo, tepatnya di Malang Kendo Association (MKA) atau Asosiasi Kendo Malang. Awal saya belajar seni pedang dari Jepang ini adalah dari Iman senpai dan Sunaryo senpai yang merupakan pendiri dari MKA pada tahun 2009. Saya pertamakali belajar dengan sensei yang notabenya orang Jepang asli adalah pada Sudo sensei. Kali pertama itu saya berlatih di dojo Kouryuu atau Suroboyo Kenyuukai untuk persiapan grading pertama saya. Pelajaran lebih kompleks dan mendetail saya dapatkan dari Sudo sensei yang tak segan-segan mengkoreksi setiap pukulan saat jigeiko(sparing) dengan beliau. Salah satu media untuk belajar dari sensei adalah dengan jigeiko dengan mereka, karena dari situlah mereka bisa mengetahui seberapa kemampuan kita dalam kendo, bagaimana benar salahnya gerakan kita.

 

Yamamoto sensei
Yamamoto sensei

Seiring dengan berjalannya waktu, MKA bertumbuh tanpa kehadiran sensei waktu itu, tetapi kendo tetap terus berjalan dengan perjuangan para senpai dengan di pimpin Sunaryo senpai yang waktu itu menjadi motor organisasi ini setelah ditinggalkan Iman senpai yang kembali ke Surabaya. Untuk mendapatkan ilmu dari sensei, terkadang para senpai dan beberapa kohai harus datang ke Surabaya berlatih bersama Sudo sensei dan Masukata sensei. Pada tahun 2012, MKA akhirnya secara konsisten di kunjungi oleh Masukata sensei yang selanjutnya bersedia menjadi sensei di Malang. Berawal dari rasa ingin mengunjungi kawan lama di Universitas Brawijaya, Masukata sensei akhirnya berkorban 2 jam pulang-pergi Surabaya-Malang untuk bisa melatih para kenshi MKA. Datangnya Masukata sensei, membuat perubahan besar dalam cara ber kendo kenshi Malang, hampir semua berubah. Tak hanya dalam skill kendo, tapi juga dalam organisasi MKA. Mencari tempat latihan yang reguler, itu menjadi salah satu perubahan dalam MKA yang sebelumnya selalu berpindah-pindah.Semangat dalam berlatih pun masih selalu berlipat ganda.

Tidak bisa di pungkiri bahwa kehadiran dua sensei yang membina Kendo di Jawa Timur ini sangat membantu perkembangan kendo di sini. Tak hanya waktu yang sudah di korbankan,tetapi juga materi sering diberikan pada kami sebagai penyemangat dalam kendo. Seiring berjalannya waktu, tak hanya Masukata sensei dan Sudo sensei saja yang pernah memberikan ilmu pada saya, tetapi juga ada Yokota sensei, Toida sensei yang sampai sekarang terus membantu perkembangan kendo di Jawa Timur, bahkan ilmu dari para sensei sensei yang sudah kembali ke Jepang seperti Kawabe sensei, Yamamoto Sensei, Yamagami sensei, dan Hidaka sensei, sensei dari Jogja, yang masih selalu teringat dalam setiap latihan saya dan membentuk bagaimana skill kendo saya yang masih jauh dari harapan mereka. Di luar daripada dojo pun masih banyak saya temui para sensei, terutama dari kota lain seperti Jakarta dan Medan yang banyak memberikan ilmu pada saya. Dari merekalah saya bisa mencontoh semangat dalam kendo dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, semangat pantang menyerah dan totalitas dalam menjalani jalan pedang ini. Banyak sisi positif dan dampak positif jika kita mau terus mencari makna dari kegiatan kita ini.

Yamagami sensei farewell Keiko (Tachigiri)
Yamagami sensei farewell Keiko (Tachigiri)

Jangan Takut Hadapi Turnamen

Bagi kendoka pemula, mengikuti turnamen untuk pertama kalinya adalah one step ahead dari proses panjang menjadi kendoka sejati.  Rasa takut, cemas, dan tidak percaya diri merupakan perasaan-perasaan yang lumrah dirasakan oleh mayoritas para kohai (junior) ini. Begitu pula yang kemarin dirasakan oleh empat orang teman dari Yogyakarta Kendo Association (YKA) ketika mengikuti turnamen East Java Kendo Tournament (EJKT) 2015 di Surabaya. Awalnya, mereka hanya ingin mengikuti grading saja, tapi lalu didorong dan didukung oleh para senpai YKA untuk mengikuti turnamen juga. Menurut mereka ‘Sayang, sudah jauh-jauh ke Surabaya tapi tidak merasakan turnamen, kalian harus ikut’. Kemudian ada tarik ulur antara senpai dan kohai YKA, kohai merasa tidak mampu mengikuti turnamen karena ada rasa takut, cemas, dan tidak pede itu tadi. Sedangkan di sisi lain senpai menginginkan anak-anak didikannya maju dan berkembang, salah satunya dengan cara mencemplungkan mereka ke arena pertandingan yang sesungguhnya.

Rasa tidak percaya diri yang dimiliki oleh teman kendoka YKA sebenarnya bisa dipahami. Karena kami adalah satu-satunya dojo yang tidak memiliki sensei. Sensei kami, Hidaka Sensei pulang ke Jepang awal tahun 2014 lalu, setelah itu kami dilatih oleh senpai-senpai yang tak pantang menyerah mempertahankan dojo Jogja. Konklusi dari ikut apa tidaknya kami di EJKT kemudian diputuskan oleh senpai yang diam-diam mendaftarkan nama kami semua di turnamen. Kaget dan sempat murung, tapi harus siap dan bayangkan saja ini adalah tantangan bukannya halangan. Ketika grading kami lebih pede, karena apa yang sudah dipelajari di dojo tinggal dipraktekkan saja pada saat ujian. Tapi ternyata, aula Surabaya Japanese School yang dipenuhi oleh sensei-sensei dan anggota dojo kota lain yang sepertinya hebat-hebat sekali, membuat kami merasa inferior. Lagi-lagi nyali kami ciut. Tapi untunglah grading berjalan lancar dan kami mendapat 3-kyu grade.

Datang juga esok harinya, hari turnamen. Hari turnamen yang ditunggu-tunggu, ingin cepat selesai itu pikiran sebagian besar dari kami. Pengalaman pertama turnamen, bisa dibilang campur aduk, mostly adalah emosi negatif yang bisa memecahkan fokus dan konsentrasi. Apalagi setelah mengetahui kalau teman-teman yang ikut turnamen memiliki grade yang lebih tinggi dari kami. Pertandingan pertama, di kelas individual kyu, kelihatan sekali kalau kami grasak-grusuk tidak rapih dari segi etika pertandingan. Tetapi setelah itu ketika bertanding kembali di nomor team match. Kami jauh lebih pede dan sudah bisa meraba-raba alur permainannya. Dan titik inilah yang tidak kami dapatkan apabila kami tidak nyemplung ikut pertandingan. Meski hasilnya tidak juara, tapi pengalaman mengikuti turnamen ini sangat berharga. Benar apa kata senpai-senpai kami bahwa sehabis turnamen pasti ingin ikutan lagi. Dan ya benar sekali, pulang ke Jogja kami lalu bertanya-tanya kapan ada turnamen kembali. Hahahaha.. Yang dulu takut-takut dan menolak habis-habisan turnamen, sekarang malah ingin keterusan turnamen.

Semangat teman-teman, sebelum maju bertanding lagi, ayok rajin latihan agar ada progress. Mungkin yang kemarin babak awal sudah kalah, next turnamen punya target maju di perempat final atau justru di final. Target itu akan dapat tercapai jika effort yang dikeluarkan juga seimbang. Buat teman-teman kendoka yang belum pernah mengikuti turnamen, cobalah ikutan! Jika takut, itu wajar. Tapi jangan sampai rasa takutmu itu mengubur cita-citamu. Mengutip quotes populer ‘Going The Extra Miles’ pas sekali dengan kendo, bahwa baiknya kita selalu mencoba untuk beyond the limit, jangan takut mencoba, jika sudah mencoba, coba lagi, dan lagi. Ganbatte!

History of East Java Kendo Tournament

East Java Kendo Tournament (EJKT) atau Turnamen Kendo Jawa Timur yang ke 4 baru saja selesai dan hasilnya bisa dilihat di sini. Tidak ada salahnya bercerita tentang turnamen terbesar di jawa timur ini dan satu-satunya turnamen yang terbuka bagi seluruh kendo kenshin di Indonesia, baik warga negara asing juga, asal masih tetap satu affiliasi dan berlatih di dojo satu affiliasi IKA. Lalu bagaimana sejarah nya bisa berdiri East Java Kendo Tournament yang selalu diadakan setiap tahun ini ? Begini ceitanya :

Sekitar tahun 2009, waktu itu kendo di jawa timur belum sepopuler dengan anggota sebanyak sekarang. Dulu diawal berdirinya hanya ada dojo Kouryuu (Suroboyo Kenyuukai sekarang), Kendo Unitomo, dan Kendo ITS. Pada jaman itu hanya tiga dojo itu saja yang kendo nya terlihat aktif, sementara Malang Kendo masih baru terbentuk dan baru berdiri pada bulan januari dan anggotanya masih baru-baru. Berawal dari turnamen Yamaha Cup, dimana turnamen ini di sponsori oleh Masukata sensei  yang saat itu menjabat General Manager Yamaha Music se- Asia pasific (maaf jika jabatan salah), memunculkan ide dibentuknya turnament sesuai dengan nama perusahaan asal jepang tersebut. Turnament berjalan lancar tetapi tidak berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya.

 

Seiring berjalannya waktu, mulai banyak dojo di jawa timur, tercetus lah ide untuk membuat Yamaha Cup lagi karena bertepatan juga dengan kunjungan sensei-sensei dari jakarta yang kesekian kali untuk ada grading (waktu itu belum masuk FIK). Dan lagi-lagi Masukata sensei siap menjadi donatur, tetapi tidak mau dengan nama Yamaha Cup. Setelah dirapatkan dengan dua dojo besar saat itu, Suroboyo Kenyuukai dan Malang Kendo Club, terbentuklah East Java Kendo Tournament pertama kali pada tahun 2012. Pada saat  itu peserta hanya internal saja, dojo-dojo di jawa timur semacam Malang dan Surabaya saja.

 

Dengan bertambahnya salah satu turnamen internal di jawa timur selain Malang kendo taikai dan Kouryuuki, ini membuat jam terbang para kenshin junior semakin bertambah. Lalu pada tahun berikutnya, mulailah di buka turnamen ini untuk nasional. Pada tahun 2013 atau EJKT ke 2, datanglah dojo dari Jakarta dan Jogja. Persaingan di turnamen ini semakin seru dan sengit dengan kedatangan kedua dojo tersebut. Begitu juga pada tahun 2014, EJKT ke 3, yang juga diikuti dari dojo Jogja dan akhirnya hingga saat ini. Kami berharap kedepanya bisa lebih banyak lagi dojo-dojo kendo di Indonesia yang bisa ambil bagian di turnamen terbesar di jawa timur ini dan bisa menjadikan salah satu turnamen yang wajib di ikuti setiap tahun nya.

Berikut ini ada beberapa dokumentasi tentang turnamen yang tadi saya ceritakan dari tahun ke tahun. 🙂

 

Yamaha Cup 2009
Yamaha Cup 2009

 

1st East Java Kendo Tournament 2012
1st East Java Kendo Tournament 2012

 

2nd East Java Kendo Tournament 2013
2nd East Java Kendo Tournament 2013

 

3rd East Java Kendo Tournament 2014
3rd East Java Kendo Tournament 2014

 

4th East Java Kendo Tournament 2015
4th East Java Kendo Tournament 2015

Kendo : Membentuk jiwa pantang menyerah

Berlatih kendo, bukanlah hanya soal melatih skill saja, jika mau lebih di dalami, latihan dalam kendo dapat terbawa dalam kehidupan kita sehari-hari. Ambilah contoh tentang Shikai, Mokuso, Rei, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, menurut pendapat saya yang masih seumur jagung dalam kendo, masih cupu banget, ada satu hal yang diajarkan kendo dalam kehidupan saya, yaitu jiwa pantang menyerah. Yah, jiwa pantang menyerah, jiwa fighter kalau kata orang. Beberapa kali saya kadang berbincang dengan sensei-sensei saya, seperti Masukata sensei dan Sudo sensei (karena emang sering kumpul ama mereka, temani minum) Hehehehe…. mereka banyak mengajarkan tentang bagaimana harus berkendo, seperti kutipan seperti ini :

Kalau keiko, jangan berhenti sebelum dapat poin” –  Masukata Sensei

“Kalau latihan sudah lelah, tidak bisa pukul, jangan berhenti. Harus coba satu kali lagi.. satu kali lagi… lagi dan lagi” Sudo sensei

Never Give Up !!
Never Give Up !!

Dua quote itu selalu saya tanamkan dalam diri saya. Inti dari dua quote itu adalah jangan mudah menyerah. Dan untuk kedua hal itu, setiap kali keiko wajiblah saya dan teman-teman lain (para senior di dojo) selalu mencari pasangan keiko yang skill nya hampir sama atau lebih tinggi. Jarang buat kita untuk berpasangan dengan kohai kita, jika ada sensei atau senpai yang lebih tinggi tingkatan dari kita di dojo. Menciptakan jiwa pantang menyerah itu sangat sulit, ya harus diakui itu. Mungkin teman-teman yang berlatih kendo tahu bagaimana lelah, berat, pusing nya berlatih kendo dengan pasangan yang lebih hebat dari kita, apalagi sensei. Sudah pasti kita bakal jadi sandsack hidup buat mereka, tapi dari situlah belajar untuk tidak mudah menyerah mencari sedikitnya satu poin ippon saja dari mereka. Memang sulit, tapi ingat, semangat pantang menyerah itu harus tumbuh di setiap kendo kenshin.
Lalu bagaimana jiwa pantang menyerah itu bisa tumbuh dalam diri saya ?
Dulu, sewaktu saya masih lebih cupu dari pengalaman kendo sekarang, saya suka dengan zona nyaman saya di kendo. Saya sebisa mungkin menghindari keiko dengan sensei, mentok-mentok juga dengan senpai-senpai yang masih orang Indonesia, bahkan dengan sensei saya sendiri. Karena saya tahu bahwa sudah pasti saya kalah dalam segala hal dengan mereka, yang aku dapat hanya capek dan malu. Sampai akhirnya Shimomura sensei, sensei dari jakarta pernah bilang pada saya yang memilih melepas men lama-lama saat sesi Godou keiko. Begini teguran beliau yang sampai sekarang mengena di hati :

” You are senior in your dojo, you have many kohai isnt it ? You want all your kohai have a fighting spirit. How about you ?  come on, show your spirit with still wear your bogu, keiko with all sensei in here. Your kohai will see your attitude, so he will follow you. Wake up, wear your men, dont give up! ” – Shimomura sensei

 

Begitulah teguran keras yang membuat saya harus kembali berpikir 180 derajat dalam menjalani kendo ini. Semangat pantang menyerah dan menjadi contoh untuk para kohai menjadi salah satu motivasi saya untuk bisa terus berdiri dan mengikuti setiap kegiatan kendo bersama para senpai dan sensei yang hebat-hebat.

Gambaran tentang pengalaman saya ini, semoga bisa menjadi sebuah inspirasi buat teman-teman yang membaca artikel sederhana ini.  Jika anda masih seorang kohai, baik itu ditanamkan sedini mungkin sehingga anda akan mengerti manfaat dalam berlatih kendo. Jika and seorang senior, baiklah ini menjadi sebuah inspirasi anda bagaimana memotivasi dan menjadi teladan bagi kohai anda. Kita tidak bisa menyuruh seseorang seperti yang kita mau, jika kita tidak memberikan contoh.

Sankyuu 🙂

International Grading & 4th East Java Kendo Tournament 2015

Tanggal 14-15 November 2015 kemarin adalah hari yang menyenangkan bagi para kendo kenshin Surabaya dan Malang. Karena pada tanggal 14 November 2015 adalah kali pertama di jawa timur, Surabaya mengadakan ujian Internasional setelah ujian grading di Jakarta pada bulan agustus kemarin bertepatan dengan National Kendo Tournament. Selain itu, diadakannya lagi East Java Kendo Tournament ke 4 tahun 2015 yang merupakan angenda tahunan dan berskala nasional serta terbuka untuk warga negara asing yang tinggal di Indonesia untuk bisa mengikutinya. Pada kegiatan kali ini, banyak terjadi kejutan, melebihi harapan para sensei-tachi dan senpai-tachi yang melihat perkembangan pada murid dan kohai nya. Selain itu juga pada pertandingan EJKT tahun ini ada kelas women kyu class yang merupakan nomor pertandingan baru di turnamen yang pernah saya ikuti.

Photo session
Photo session Participations

Kegiatan dimulai pada tanggal 14 November jam 12 siang, dimana para peserta grading diwajibkan untuk daftar ulang untuk grading. Para peserta grading kali ini berasal dari Malang, Jogja, Jakarta, dan Surabaya, sebagai tuan rumah serta bertempat di SJS, Surabaya Japan School yang merupakan basecamp Suroboyo Kenyuukai, club kendo satu-satunya di Surabaya. Peserta pada grading ini untuk Kyu dan non-kyu ada 42 kenshin, bogu (kyu 3 – 1) 3 kenshin, dan kelas Dan ada 9 orang. Di dalam suhu kota Surabaya yang mencapai 38 derajat celcius itu, para peserta melakukan ujian grading pada jam 13.30 WIB. Dan akhirnya ujian selesai pada pukul 16.30 WIB dengan hasil yang sangat memuaskan. Untuk kelas Non kyu – 4 kyu, rata-rata para kenshin mendapatkan grade 4-3 kyu, dengan kyu terendah adalah 6-kyu dan tertinggi 2-kyu. Untuk kelas Bogu tertinggi adalah 1-kyu., sementara kelas Dan semua peserta lulus. Kegiatan di hari pertama di tutup dengan Godou keiko bersama dengan 8 sensei dari Jakarta dan 4 dari Surabaya. Sudah bisa di bayangkan bagaimana penuhnya dojo SJS saat itu. Tidak ada satu orang kenshin pun yang melepas men nya karena mereka benar-benar bersemangat dengan kedatangan para sensei meski udara sangat panas. Godou keiko berakhir pada pukul 17.30 WIB yang kemudian dilanjutkan dengan welcome party pada pukul 18.30 WIB.  Di saat welcome party inilah para sensei dan para kenshin bisa saling share dan saling kenal, karena itu pentingnya ada welcome party, relasi tidak terjalin hanya di tempat latihan saja, tetapi juga di luar.

 

HARI TURNAMEN.

Setelah melewati satu malam di kota Surabaya yang panas meski sudah tidur menggunakan kipas angin dan buka baju (hasyaaahh!!), tibalah di hari turnament tanggal 15 November. Para peserta berkumpul pada pukul 07.30 WIB untuk melakukan daftar ulang dan pemanasan sebelum turnamen sembari menunggu para sensei datang. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, tanda turnament dimulai. Untuk peserta pada turnamen kali ini ada peningkatan meski saya tidak tahu berapa banyak, tetapi ini terlihat dari masing-masing kelas yang di pertandingkan. Pembukaan turnament kali ini dimulai dengan performance dari Ogawachi sensei dengan skill Iaido nya yang memukau para peserta, performance yang belum pernah saya lihat. Setelah performance, pertandingan segera di mulai di 2 court. Court 1 akan di pertandingkan kelas Men-kyu, dan di Court 2 adalah kelas Woman-kyu.

Closing Ceremony
Closing Ceremony

Pertandingan berlangsung seru, mungkin karena mereka sama-sama masih baru dan masih butuh banyak jam terbang, jadi lumayan membuat para kenshin yang bermain di kelas Dan yang bisa dikatakan “mengerti” tentang shiai, sesekali berdecak kagum dengan stamina dan skill-skill para kohai. Entah apa yang ada di pikiran mereka, tapi memang di sinilah mental mereka bermain. Meski skill bagus tapi jika pada saat pertandingan, terkadang mental bisa down dan akhirnya skill tidak bisa keluar. Setelah pertandingan para junior, saatnya lah para senior berunjuk gigi. Dimana hal yang sama dialami para junior yang hanya bisa melongo melihat skill para senior mereka yang pastinya jam terbangnya lebih tinggi. Pada setiap pertandingan, seperti tidak ada habisnya teriakan semangat dan tepuk tangan dari para penonton saat itu.

Setelah pertandingan berjalan sekian lama, akhirnya pada kelas Woman kyu pada final mempertemukan Fildzah dari Kendo ITS, dan Derra dari Kendo Surabaya setelah masing-masing mengalahkan lawan mereka Puji dari Jogja dan Hera dari Assosiasi Kendo Malang yang tak lama kemudian memperbutkan tempat ketiga pada turnamen ini. Pada perebutan tempat ketiga ini dimenangkan oleh Hera dari Malang dengan poin kote dan men. Sementara di kelas Men-kyu yang mempunyai peserta terbanyak, pada final mempertemukan Kharis dari Malang dan Aloysius dari Surabaya. Dan di tempat ketiga di peroleh Harris dari Malang yang dikalahkan Kharis yang dari Malang juga. Untuk kelas Dan, dimana para kenshin pemegang DAN, baik itu cewe atau cowo bertanding, di final mempertemukan Erman dari Malang dan Yusuf dari Surabaya. Sementara tempat ketiga diperoleh Teddy dari Malang yang mengalahkan Noor Rofiq dari Jakarta dengan satu poin Men. Untuk team match yang diikuti oleh 9 team dengan 2 team dari Malang, 1 team dari Jogja dan Jakarta, serta 5 team dari Surabaya, mempertemukan sang juara bertahan, Malang Kendo dengan Jakarta Kendo. Untuk tempat ketiga di tempati oleh Surabaya Kendo D setelah mengalahkan sesama team dari Surabaya, yaitu Surabaya Kendo C.

PERTANDINGAN FINAL

Seperti di turnamen-turnamen nasional yang lain, Final match dilakukan pada akhir seluruh pertandingan, dan final kali ini dimulai dari Woman-kyu. Pertandingan di kelas ini berjalan sangat sengit, mempertemukan junior dan senior satu kota. Fildzah yang merupakan junior dan anggota kendo ITS berhasil membuat sang senior, Dera untuk memaksakan encho pada final match kali ini meski pada akhirnya Dera bisa menang dengan Men-ari nya. Berlanjut pada kelas Men-kyu yang mempertemukan dua kota, Malang dan Surabaya yang juga merupakan satu affiliasi kendo. Pada match kali ini Kharis yang lebih memiliki pengalaman bisa menang mudah dari pendatang baru Aloysius dari Surabaya dengan 2-0 melalui Men-ari nya. Pertandingan final ketiga, kelas DAN dimana sang anak muda, Yusuf Poenta dari Surabaya yang mampu mengalahkan dua senior sebelumnya Teddy dan Mokok, kini harus berhadapan dengan senior yang lain, Erman Ardie dari Malang. Erman melangkah ke final setelah mengalahkan Tesar pada perempat final dan Noor Rofiq pada semifinal. Pertandingan kelas Dan ini juga tidak kalah serunya sampai pertandingan dilanjutkan pada perpanjangan waktu, Encho. Dan hasil mengejutkan diperoleh oleh Yusuf Poenta yang berhasil mendapat poin Men pada saat itu. Sebuah aset yang bagus dan juga regenerasi dari dojo Surabaya.

Dan akhirnya pada pertandingan final terakhir, yang juga merupakan kelas bergengsi di turnamen ini adalah kelas team, yang mempertemukan juara bertahan 2 kali di turnamen yang sama ini dengan JKA yang dihuni banyak kenshin berpengalaman. MKA berhasil masuk ke final setelah mengalahkan SKA E pada penyisihan dan SKA D pada semifinal dengan poin tipis 5-4. Sementara JKA berhasil ke final setelah mengalahkan SKA A pada penyisihan dan SKA C pada semifinal. Pertandingan dimulai dengan kekalan 2 poin dari MKA setelah Teddy dikalahkan oleh Adhi W pada senpo dengan poin kote dan men. Berlanjut pada Jiho, lagi-lagi JKA mampu mendapatkan 1 poin dari Diola setelah mendapatkan poin Men dari Hera. Pada kelas chukken Erman dari MKA mampu menahan imbang 1-1 Negla dari tim JKA. Kedudukan menjadi 4-1 dan dilanjutkan dengan fukusho dimana MKA menurunkan Harris melawan Neni dari JKA yang dimenangkan oleh Neni dengan 1 poin Men. Dan pada laga pamungkas, taisho Sun dari MKA yang memenangkan pertandingan ini setelah berhadapan dengan Noor dari JKA dengan poin 2-1 dua kali Kote dan 1 Men dari Noor. Dengan hasil 6-3 untuk kemenangan JKA, MKA akhirnya harus merelakan gelar ketiganya terbang ke tim Jakarta.

Benar-benar hari yang penuh dengan semangat dan banyak ilmu yang di dapat hari itu. Setelah pengumuman pemenang dan sesi foto bersama, acara di tutup dengan Godou keiko yang kemudian dilanjutkan dengan makan bersama nasi padang… hehehehe….

Berikut ini pengumuman pemenang pada 4th East Java Kendo Tournament 2015.

Women Individual Kyu
1. Derra (SKA)
2. Fildzah (SKA)
3. Hera (MKA)

Men Individual Kyu
1. Kharis (MKA)
2. Alo (SKA)
3. Harris (MKA)

Individual Dan
1. Yusuf (SKA)
2. Erman (MKA)
3. Teddy (MKA)

Team Match
1. JKA
2. MKA A
3. SKA D

Selamat buat para pemenang, buat yang lainnya tetap semangat karena perjalanan Kendo masih panjang \m/
Untuk lebih jelas pertandingan, bisa lihat di channel youtube AKMTV.

*JKA: Jakarta
SKA: Surabaya
MKA: Malang
YKA: Jogjakarta

Credit photo By Kendo Surabaya & Iman senpai

Kendo Girls
Kendo Girls
Dan Medalist
Dan Medalist
3rd Place Team Match
3rd Place Team Match
Men-Kyu Medalist
Men-Kyu Medalist
1st Place Team Match
1st Place Team Match
2nd Place Medalist
2nd Place Medalist

 

Melatih jiwa samurai dalam Kendo

Ini adalah postingan opini pribadi sih, berdasarkan pengalaman yang selama ini saya rasakan. Selain itu, ini hanya sedikit share buat yang ingin lebih mengenal kendo, bukan yang untuk just for fun, karena menurutku artkel ini kurang tepat karena ditulis seorang yang mencoba strech akan kendo .

Kendo_edit_by_Sturmgeist

                Selama beberapa tahun ini sebagai seorang kenshin yang masih belum tahu apa-apa dan menjadi seorang senior dalam sebuah dojo, banyak pengamatan dan ilmu untuk mengembangkan kepribadian dalam belajar kendo. Tidak hanya belajar tentang skill berlatih kendo, tetapi buat saya yang tidak kalah penting adalah pembelajaran pada karakter kita sebagai seorang kenshin. Seperti yang kita tahu bahwa kendo adalah pengembangan dari latihan seorang samurai, jadi secara tidak langsung kita belajar mempunyai jiwa seorang samurai. Jiwa sebagai seorang ksatria yang loyal pada majikannya dan selalu patuh akan peraturan yang ada dalam kelompok atau clan nya dan berusaha tidak membuat malu clan atau tuan nya dalam setiap tindakannya. Hal yang sama sepertinya harus dipelajari dari setiap kenshin yang belajar kendo. Menurut saya ini hal yang baik.
Buat saya, dojo adalah sebuah organisasi yang menggambarkan sebuah clan, dengan sensei sebagai majikan kita. Dan kita para kenshin adalah para samurai yang wajib loyal dan juga mengikuti segala peraturan dari dojo tanpa perlu bertanya kenapa begini, kenapa begitu, karena setiap rumah ada peraturannya sendiri-sendiri. Berikut adalah beberapa penjabaran yang mungkin bisa sedikit memberi inspirasi pada teman-teman yang membaca :
Loyal
Loyal pada sensei dalam hal ini adalah memandang sensei sebagai guru kita untuk menjalani jalan pedang yang sudah kita pilih ini, mengenalkan kita pada budaya mereka, mengajarkan kita tentang applikasi kendo dalam kehidupan sehari-hari. Loyal pada sensei bukan berarti kita menomor satukan beliau, ingat, tetap ada Tuhan yang menjadi utama kita untuk lebih loyal padaNya. Dalam belajar kendo, juga menyangkut nilai spiritual yang tinggi. Itu yang selalu harus kita pegang dalam kita menjalani nya.

Mengikuti segala peraturan
Selalu saya beritahukan pada anggota baru bahwa kendo tidak hanya tentang berlatih dengan shinai, tetapi juga sikap saling menghargai, taat pada pertaturan, dan tata krama. Tak hanya fisik yang dilatih, tetapi juga hati dan mental kalian. Saya yakin setiap orang mempunyai ego, apalagi jika ada sebuah peraturan yang tidak sesuai dengan keiinginannya, ego itu pasti akan langsung muncul. Sebagai seorang ksatria, wajiblah kita memendam ego itu dan patuh pada setiap peraturan yang sudah dibuat, bahkan sebelum kita bergabung. Wajib hukumnya bagi kita mentaati dan menghargai nya. Itu adalah salah satu poin penyesuaian diri anda sebagai ksatria di lingkungan sekitar anda.

Tidak membuat malu clan atau guru anda
Dalam dunia beladiri, tindakan seorang anggota bisa berakibat pada pandangan orang lain, perguruan lain, atau kelompok lain akan citra komunitasnya. Di poin ini, mungkin kita harus banyak belajar akan tindak tanduk kita dalam bersikap dengan orang lain, sensei dari dojo lain, dll. Karena dari situlah kita dinilai, komunitas kita dinilai. Jadi pintar-pintar lah berucap dan membawa diri.

Mencintai negara sendiri
Tidak sedikit mereka yang ikut kendo, beladiri asal jepang ini yang ikut karena cinta akan budaya jepang. Yah awalnya dulu saya memang begitu, tetapi lambat laun saya sadar bahwa seharusnya saya harus lebih cinta dengan negara saya sendiri. Berlatih dengan orang jepang, bukan berarti saya harus menjadi jepang karena pada dasarnya saya adalah orang Indonesia. Banyak persepsi yang salah tentang hal ini. Kita sebagai ksatria sudah sewajibnya mencintai negara kita ini meski kita belajar budaya negara lain. Dan mana yang baik itu lah perlu kita tambahkan untuk membuat manusia berkualitas di negara ini.

20140717_214158

Tetapi tidak semua orang bisa mengerti akan hal ini. Lama sebagai senior di Malang Kendo Club, banyak saya melihat anggota yang keluar masuk dalam club ini. Banyak alasan kenshin yang memilih keluar atau menjadi tidak aktif lagi dalam berlatih kendo. Ada yang karena berbenturan waktu, ada yang cedera, ada yang sibuk dengan kegiatan lain, dll  yang ujungnya mereka tidak lagi berlatih kendo. Saya menyadari bahwa untuk menjadikan seseorang yang bisa sepemikiran dengan kita itu sangat sulit karena setiap orang punya prioritas dan target dalam hidup yang berbeda dan pastinya tidak akan sama. Dalam hal ini sepertinya perlu untuk membentuk orang yang bisa menjadi seperti kita dengan sebuah contoh. Jika kita ingin membentuk kohai kita seperti apa yang kita ingin kan, perlulah sebagai seorang senior memberikan contoh juga. Dalam kendo, terutama di dojo saya, sebisa mungkin kami menjadi saudara, tanpa ada batas sekat antara senior dan junior di luar dojo. Dengan begitu akan lebih mudah jika bisa saling share dan yang akhirnya bisa mencoba membuat mereka mengerti pemikiran kita ini.

Mungkin sekian dulu tulis menulisnya, kita lanjutkan lain waktu… Ja mata..