Jangan Takut Hadapi Turnamen

Bagi kendoka pemula, mengikuti turnamen untuk pertama kalinya adalah one step ahead dari proses panjang menjadi kendoka sejati.  Rasa takut, cemas, dan tidak percaya diri merupakan perasaan-perasaan yang lumrah dirasakan oleh mayoritas para kohai (junior) ini. Begitu pula yang kemarin dirasakan oleh empat orang teman dari Yogyakarta Kendo Association (YKA) ketika mengikuti turnamen East Java Kendo Tournament (EJKT) 2015 di Surabaya. Awalnya, mereka hanya ingin mengikuti grading saja, tapi lalu didorong dan didukung oleh para senpai YKA untuk mengikuti turnamen juga. Menurut mereka ‘Sayang, sudah jauh-jauh ke Surabaya tapi tidak merasakan turnamen, kalian harus ikut’. Kemudian ada tarik ulur antara senpai dan kohai YKA, kohai merasa tidak mampu mengikuti turnamen karena ada rasa takut, cemas, dan tidak pede itu tadi. Sedangkan di sisi lain senpai menginginkan anak-anak didikannya maju dan berkembang, salah satunya dengan cara mencemplungkan mereka ke arena pertandingan yang sesungguhnya.

Rasa tidak percaya diri yang dimiliki oleh teman kendoka YKA sebenarnya bisa dipahami. Karena kami adalah satu-satunya dojo yang tidak memiliki sensei. Sensei kami, Hidaka Sensei pulang ke Jepang awal tahun 2014 lalu, setelah itu kami dilatih oleh senpai-senpai yang tak pantang menyerah mempertahankan dojo Jogja. Konklusi dari ikut apa tidaknya kami di EJKT kemudian diputuskan oleh senpai yang diam-diam mendaftarkan nama kami semua di turnamen. Kaget dan sempat murung, tapi harus siap dan bayangkan saja ini adalah tantangan bukannya halangan. Ketika grading kami lebih pede, karena apa yang sudah dipelajari di dojo tinggal dipraktekkan saja pada saat ujian. Tapi ternyata, aula Surabaya Japanese School yang dipenuhi oleh sensei-sensei dan anggota dojo kota lain yang sepertinya hebat-hebat sekali, membuat kami merasa inferior. Lagi-lagi nyali kami ciut. Tapi untunglah grading berjalan lancar dan kami mendapat 3-kyu grade.

Datang juga esok harinya, hari turnamen. Hari turnamen yang ditunggu-tunggu, ingin cepat selesai itu pikiran sebagian besar dari kami. Pengalaman pertama turnamen, bisa dibilang campur aduk, mostly adalah emosi negatif yang bisa memecahkan fokus dan konsentrasi. Apalagi setelah mengetahui kalau teman-teman yang ikut turnamen memiliki grade yang lebih tinggi dari kami. Pertandingan pertama, di kelas individual kyu, kelihatan sekali kalau kami grasak-grusuk tidak rapih dari segi etika pertandingan. Tetapi setelah itu ketika bertanding kembali di nomor team match. Kami jauh lebih pede dan sudah bisa meraba-raba alur permainannya. Dan titik inilah yang tidak kami dapatkan apabila kami tidak nyemplung ikut pertandingan. Meski hasilnya tidak juara, tapi pengalaman mengikuti turnamen ini sangat berharga. Benar apa kata senpai-senpai kami bahwa sehabis turnamen pasti ingin ikutan lagi. Dan ya benar sekali, pulang ke Jogja kami lalu bertanya-tanya kapan ada turnamen kembali. Hahahaha.. Yang dulu takut-takut dan menolak habis-habisan turnamen, sekarang malah ingin keterusan turnamen.

Semangat teman-teman, sebelum maju bertanding lagi, ayok rajin latihan agar ada progress. Mungkin yang kemarin babak awal sudah kalah, next turnamen punya target maju di perempat final atau justru di final. Target itu akan dapat tercapai jika effort yang dikeluarkan juga seimbang. Buat teman-teman kendoka yang belum pernah mengikuti turnamen, cobalah ikutan! Jika takut, itu wajar. Tapi jangan sampai rasa takutmu itu mengubur cita-citamu. Mengutip quotes populer ‘Going The Extra Miles’ pas sekali dengan kendo, bahwa baiknya kita selalu mencoba untuk beyond the limit, jangan takut mencoba, jika sudah mencoba, coba lagi, dan lagi. Ganbatte!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *