Kendo : Membentuk jiwa pantang menyerah

Berlatih kendo, bukanlah hanya soal melatih skill saja, jika mau lebih di dalami, latihan dalam kendo dapat terbawa dalam kehidupan kita sehari-hari. Ambilah contoh tentang Shikai, Mokuso, Rei, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, menurut pendapat saya yang masih seumur jagung dalam kendo, masih cupu banget, ada satu hal yang diajarkan kendo dalam kehidupan saya, yaitu jiwa pantang menyerah. Yah, jiwa pantang menyerah, jiwa fighter kalau kata orang. Beberapa kali saya kadang berbincang dengan sensei-sensei saya, seperti Masukata sensei dan Sudo sensei (karena emang sering kumpul ama mereka, temani minum) Hehehehe…. mereka banyak mengajarkan tentang bagaimana harus berkendo, seperti kutipan seperti ini :

Kalau keiko, jangan berhenti sebelum dapat poin” –  Masukata Sensei

“Kalau latihan sudah lelah, tidak bisa pukul, jangan berhenti. Harus coba satu kali lagi.. satu kali lagi… lagi dan lagi” Sudo sensei

Never Give Up !!
Never Give Up !!

Dua quote itu selalu saya tanamkan dalam diri saya. Inti dari dua quote itu adalah jangan mudah menyerah. Dan untuk kedua hal itu, setiap kali keiko wajiblah saya dan teman-teman lain (para senior di dojo) selalu mencari pasangan keiko yang skill nya hampir sama atau lebih tinggi. Jarang buat kita untuk berpasangan dengan kohai kita, jika ada sensei atau senpai yang lebih tinggi tingkatan dari kita di dojo. Menciptakan jiwa pantang menyerah itu sangat sulit, ya harus diakui itu. Mungkin teman-teman yang berlatih kendo tahu bagaimana lelah, berat, pusing nya berlatih kendo dengan pasangan yang lebih hebat dari kita, apalagi sensei. Sudah pasti kita bakal jadi sandsack hidup buat mereka, tapi dari situlah belajar untuk tidak mudah menyerah mencari sedikitnya satu poin ippon saja dari mereka. Memang sulit, tapi ingat, semangat pantang menyerah itu harus tumbuh di setiap kendo kenshin.
Lalu bagaimana jiwa pantang menyerah itu bisa tumbuh dalam diri saya ?
Dulu, sewaktu saya masih lebih cupu dari pengalaman kendo sekarang, saya suka dengan zona nyaman saya di kendo. Saya sebisa mungkin menghindari keiko dengan sensei, mentok-mentok juga dengan senpai-senpai yang masih orang Indonesia, bahkan dengan sensei saya sendiri. Karena saya tahu bahwa sudah pasti saya kalah dalam segala hal dengan mereka, yang aku dapat hanya capek dan malu. Sampai akhirnya Shimomura sensei, sensei dari jakarta pernah bilang pada saya yang memilih melepas men lama-lama saat sesi Godou keiko. Begini teguran beliau yang sampai sekarang mengena di hati :

” You are senior in your dojo, you have many kohai isnt it ? You want all your kohai have a fighting spirit. How about you ?  come on, show your spirit with still wear your bogu, keiko with all sensei in here. Your kohai will see your attitude, so he will follow you. Wake up, wear your men, dont give up! ” – Shimomura sensei

 

Begitulah teguran keras yang membuat saya harus kembali berpikir 180 derajat dalam menjalani kendo ini. Semangat pantang menyerah dan menjadi contoh untuk para kohai menjadi salah satu motivasi saya untuk bisa terus berdiri dan mengikuti setiap kegiatan kendo bersama para senpai dan sensei yang hebat-hebat.

Gambaran tentang pengalaman saya ini, semoga bisa menjadi sebuah inspirasi buat teman-teman yang membaca artikel sederhana ini.  Jika anda masih seorang kohai, baik itu ditanamkan sedini mungkin sehingga anda akan mengerti manfaat dalam berlatih kendo. Jika and seorang senior, baiklah ini menjadi sebuah inspirasi anda bagaimana memotivasi dan menjadi teladan bagi kohai anda. Kita tidak bisa menyuruh seseorang seperti yang kita mau, jika kita tidak memberikan contoh.

Sankyuu 🙂

2 thoughts on “Kendo : Membentuk jiwa pantang menyerah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *